Kadang-kadang rasa cemburu pada mereka-mereka yang cukup bijak dalam menyusun aksara menjadi ayat yang penuh makna.
Yang bila dibaca tembus terus sampai ke jiwa.
Yang bila difahami erti terus terjaga dari mimpi.
Kan?
Dan betul kata seorang kenalan maya.
Katanya,
Dalam menulis, ritma dan irama sekadar penyedap bahasa.
Yang
paling utama, sama ada isinya mampu dihadam atau dibuang semata-mata.
Dan menulis, biarlah ada makna.
Dari hati kita.
Moga-moga sampai juga ke hati mereka yang membaca sama.
No comments:
Post a Comment